Pengalaman Pertama Kali Memelihara Burung Berkicau

pengalaman saya ketika pertama kali memelihara burung berkicau yang dengan pengalaman ini saya sangat sedih dan berduka sekali.

pengalaman saya ketika pertama kali memelihara burung berkicau yang dengan pengalaman ini saya sangat sedih dan berduka sekali.Kali ini saya akak berbagi cerita kepada para pengunjung semua, yaitu pengalaman saya ketika pertama kali memelihara burung berkicau yang dengan pengalaman ini saya sangat sedih dan berduka sekali.

Tidak menampik saya suka sekali dengan burung, terutama burung kicau. Saya tidak fanatik pada satu jenis burung kicau saja, tapi semua burung yang dapat berkicau saya suka. Karena terbatasnya keuangan, saya memutuskan untuk membeli burung dengan harga yang murah. Tau sendiri kan, berapa harga burung kicau yang bagus? Itu bisa sampai jutaan, bahkan bisa lebih dari itu, yang akhirnya saya membeli burung berkicau dengan harga Rp 50.000.

Dengan uang Rp 50.000 cash, saya membeli burung kacamata yang biasa saja, yang penting burung kacamata berkicau lah setiap hari di rumah saya. Waktu itu saya membeli beserta kandangnya, saya membeli burung kacamata dan kandangnya dari seorang teman yang telah lama berkecimpung dalam dunia perburungan.

Saya bermaksud membeli burung kacamata itu bukan untuk diikut sertakan dalam kejuaraan kontes suara kicau burung, saya bermaksud untuk dipelihara saja di rumah, itung-itung buat terapi dengan suara kicauan burung, yang katanya bisa menyehatkan dan memulihkan pikiran kita yang sedang stress atau depresi.

Singkat cerita, burung tersebut sudah di rumah saya, saya pun senang kegirangan, dalam hati saya berucap “akhirnya saya bisa memelihara burung berkicau juga”. Keluarga pun tidak keberatan ada burung di rumah, malah mereka senang, dan ikut nimbrung lihat-lihat burung yang saya bawa. Saya pun bergegas untuk memasukan dan menyimpan pakan burung di dalam kandangnya dengan baik, dan tak lupa, tempat air minumnya saya isi penuh, lalu saya membuatkan cantelan untuk mengait di atas dengan paku di depan rumah saya. Tidak menunggu lama, kandang beserta burungnya saya cantelkan, kaitkan di atas cantelan tersebut. Tak lama berselang, kicauan burung kacamata mulain terdengar, saya pun duduk untuk menikmati kicauan burung kacamata saya.

Seperti biasa, setiap pagi saya berangkat beraktifitas. Sebelum berangkat saya sempatkan dulu untuk mendengar kicauan burung kacamata saya, pakan burung dan tempat minumnya saya isi penuh, dan saya pun berangkat kerja. Sore hari, waktu saya pulang kerja, saya bergegas melihat burung kacamata saya, saya turunkan kandangnya, dan “walah, kok pada terlentang di bawah”, saya pegang badannya burung, keras banget, “waaah ini sudah mati”, ucap saya. Tau gak? Itu saya sedih banget, sangat sedih, baru saja satu hari memilihara burung, si burung sudah tiada, terpukul sekali batin ini.

Ya harus bagaimana lagi, saya harus menemiranya dengan lapang dada. Mungkin itu kecerobahan saya, tapi saya bingung, entah apa itu penyebabnya, padahal pakannya masih ada, airnya masih ada, ko bisa burung saya mati? Untuk para pengunjung blog, ada yang tahu masalahnya apa? Jika tahu, silahkan kasih saya tahu penyebabnya. Penyebab burung mati mendadak, apa penyebabnya?

Demikianlah pengalaman saya memelihara burung berkicau, semoga ini menjadi pembelajaran saya khususnya dalam memelihara burung, dan menjadi bahan pertiimbangan untuk yang ingin sekali memelihara burung.

Penulis: ridwanris

Saya Asep Ridwan Rismanto seorang karyawan swasta dan hobi saya adalah menulis di blog.

Tinggalkan Balasan