Cara Menghadapi Ayah yang Galak

saya akan berbagi pengalaman saya kepada pembaca semua tentang Cara Menghadapai Ayah yang Galak

Cara Menghadapi Ayah yang Galak
Ini Foto Saya dan Istri Saya

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya kepada pembaca semua tentang Cara Menghadapai Ayah yang Galak. Pengalaman ini benar saya alami sendiri, bagaimana rasa takut itu terus menghantui, kengerian yang mendalam, dan tekanan batin yang berat.

Mulai dari umur tiga tahun saya sudah mengalami siksaan fisik dari ayah saya. Ibu saya mengatakan, pada waktu saya umur tiga tahun, saya sudah disiksa dengan sabuk tentara, dan disiram oleh bubur kacang panas yang baru dibuat oleh ibu saya.

Penyiksaan itu masih terus berlanjut, dan ayah saya sepertinya tidak puas dengan satu jenis siksaan saja. Semua jenis siksaan sudah saya alami, gamparan tangan, pukulan dan tendangan kaki, itu mah sudah biasa saya rasakan. Bantingan kursi kayu, yang telak menghantam tubuh saya , sampai saya susah bernafas, itupun sudah biasa. Hampir tiga kali seminggu saya disksa. Kejadian penyiksaan yang secara rutin itu terjadi pada waktu saya duduk di Sekolah Dasar. Mata lebam, hidung dan bibir berdarah, itu mah sudah biasa.

Saya masih ingat, dan ini menurut saya siksaan terparah dari yang terparah.Waktu itu saya masih duduk di kelas empat SD, kejadiannya tengah malam, sekitar jam setengah satu malam lah. Saya dihajar habis-habisan dari jam 8 malam, lalu terakhir saya diseret ke dapur, lalu ayah ngambil golok, kepala saya diinjak, lalu golok yang ayah pegang, ditekan ke leher saya sampai leher saya luka berdarah, ibu saya teriak-teriak, memohon kepada ayah saya, jangan dibunuh, sampai nangis-nangis keras ibu saya memohon jangan bunuh saya. Lalu ayah lempar goloknya, lalu menendang dada saya, supaya keluar rumah. Saya diusir, karena masih kecil saya tidak berani keluar jauh-jauh, apalagi tengah malam, di kampung lagi. Saya hanya duduk saja di samping rumah, lalu ibuku melempar, sarung dan bantal dari jendela kamar.

Pasti kalian bertanya, apa sih masalahnya sampai saya disiksa kayak gitu? Keadaan ekonomi kah, atau saya yang kelewat nakal. Perlu kalian ketahui, keluarga saya bukan keluarga miskin, kami berkecukupan, ayah saya seorang pebisnis mobil, mobilnya pun banyak di garasi. Apakah saya nakalnya kelewatan? Saya jawab, tidak. Dari mulai saya masih SD sampai sekarang belum pernah mempermalukan keluarga saya akibat kelakuan saya. Saya bermain masih dibatas kewajaran, tahu waktu, dan belajar, malah saya selalu masuk rengking sepuluh besar di kelas. Ibu tidak bisa menahan kemarahan ayah saya, ibu selalu menyaksikan, terkadang ibu juga kena siksa sama ayah saya.

Yang saya perhatikan, setiap kali ada masalah dalam bisnisnya, pasti ayah marah-marah di rumah, saya dan ibu lah yang kena amarahnya, yang paling sering sih saya. Apakah tetangga tidak tahu dengan penyiksaan ini? Semua tetangga sudah tahu, malah pernah sekali ayah saya dipanggil sama RT. Terus saya perhatikan lagi Ayah saya itu seperti ada kelainan, jadi kalau lagi marah emosinya tidak terkendali.

Penyiksaan terus berlanjut, sampai terakhir tahun kemarin. Saya sudah mulai memahami semuanya pada waktu saya duduk di SMP, mungkin karena sudah terbiasa. Berikut saya tuliskan menurut pengalaman saya. Dan cara ini pertama kali saya lakukan pada waktu saya duduk di kelas dua SMP sampai lulus SMA. Sesudah saya lulus SMA saya jarang banget di rumah, kegiatan saya sibuk banget, hampir satu tahun di pesantren, keluar dari pesantren saya marantau jauh ke Kalimantan.

Cara Menghadapi Ayah yang Galak

  1. Jika gelagat ayah sudah terlihat mau marah besar, yang harus kalian lakukan adalah, bersikap tenang, sikap kalian harus menunjukan bahwa ayah itu sedang tidak marah.
  2. Jika dalam kondisi si ayah sedang marah besar, tapi belum menyerang kalian, terus si ayah bertanya, maka jawablah dengan jujur.
  3. Untuk perlindungan diri, jika sudah terlihat gelagat si ayah mau marah besar, ambilah bantal, tas, atau apa saja yang bisa melindungi diri kalian dan peganglah erat-erat. Ini selalu saya lakukan, walaupun akhirnya, barang pelindung yang saya pegang, direbut oleh ayah.
  4. Kalau si ayah sudah sekali dua kali nampar, mukul, atau tindakan lainnya, maka saran saya, cepat kabur, cepat kabur lah, keluar rumah, dan minta perlindungan kepada tetangga, atau siapa saja yang ada di sekitar rumah kamu. Usaha kabur saya ini pernah gagal, tangan saya tertangkap sama ayah, sesudah itu habis saya dihajar.
  5. Jangan melawan, atau membalas serangan tindakan fisik si ayah, ini mengakibatkan tambah emosinya si ayah. Tapi jika memungkinkan, jika kalian jago bela diri, lumpuhkan lah si ayah tapi jangan dipukul, atau di tendang, cukup dilumpuhkan saja. Jujur, ini belum pernah saya lakukan, karena postur ayah saya tinggi besar, sedangkan pada waktu itu saya kecil.

Terakhir, penyiksaan ini terjadi pada tahun kemarin. Bayangkan, sekarang kan saya sudah menikah, tapi si ayah tetap saja emosian. Sekarang kan si ayah sudah agak tua, tidak sadar dia kesitu, marahin saya habis-habisan, dia mukul wajah, saya balas lagi pukul wajah dia, berantemlah kami berdua. Ibu saya jerit-jerit, dan tetanggalah yang memisahkan kami.

Semenjak kejadian terakhir itu, beberapa bulan saya tidak ke rumah ayah, udah lah saya nyerah dengan keadaan, pusing saya kalau gini terus, saya memutuskan untuk tidak lagi bersilaturahmi ke rumah ayah.

Eh kamarin, tepatnya bulan kemari, ayah datang ke rumah saya. Dia nangis, nangis banget, meluk saya sampai air matanya keluar banyak. Dalam hati saya bergumam, “baru kali ini ayah minta maaf sama saya, nangis lagi.” Ayah benar-benar minta maaf sama saya atas semua penyiksaan dan kekerasan kepada saya, dari semenjak balita sampai kemarin, ayah minta maaf, dia sampai bilang, “silahkan jika kamu ingin membalasnya, sekarang siksa ayah, terserah kamu.” Saya jawab, “ah enggak.”  Ayah berjanji, akan merubah sikap jeleknya itu.

Saya seorang manusia biasa, menyikapi hal ini, terkadang perasaan dendam ada, sedih sudah pasti. Tapi saya tutup semua, saya kubur semua perasaan itu, dan sudah saya maafkan semuanya. Biarlah yang sudah terjadi, jangan diingat lagi. Ini menjadi pelajaran buat saya, yang sudah mempunyai dua orang anak, dan satu lagi di kandungan istri saya, bahwa di gampar itu sakit, di siksa itu menyakitkan dan memberikan dampak buruk pada kejiwaan. Senakal-nakalnya si anak, pasti ada cara lain lah untun mendidiknya, memberitahukannya, selain dengan cara penyiksaan.

Terakhir, mudah-mudah curhatan saya, dan tips Cara Menghadapi Ayah yang Galak bermanfaat untuk semuanya, dan menjadi bahan renungan untuk pembaca semuanya.

 

 

Tinggalkan Balasan